TOLE BA PONTAR

my blogs my rules...who is blocked?
apapun yang terjadi - yang anda yakini adalah kekuatan anda,
apapun yang terjadi - anda harus pada tujuan anda,
apapun yang terjadi - yang anda yakini adalah yang akan terjadi.

Rabu, 25 Februari 2009

DANAU LUMANEY PANGOLOMBIAN

“Mulanya berwujud Waduk, yang kemudian menjadi sebuah danau di kelilingi bukit di antara dua perkampungan”
Awalnya sebelum Desa Pangolombian terbentuk seperti sekarang ini, telah ada komunitas yang tinggal di sekitar danau yang lokasinya bernama “lumaney”, kira – kira 200 meter jarak tempuh dan terletak di bawah kaki bukit di atas Desa Pangolombian Kecamatan Tomohon Selatan.
Danau yang terbentang dengan luas ± 4 Ha ini, awalnya berupa kubangan di tengah – tengah persawahan, sekitar tahun 1900. Kemudian karena disekelilingya dipenuhi oleh pepohonanan yang menghiasi bukit-bukit maka volume airnya lama-kelamaan bertambah. Maka oleh warga kubangan ini dijadikan waduk untuk mengairi persawahan penduduk, sekaligus menebarkan benih-benih ikan untuk kebutuhan masyarakat. Ternyata tak disangka volume air dengan cepat terus bertambah hingga menutupi sebagian hamparan sawah dari penduduk Desa Pangolombian dan Desa Tondangow Kecamatan Tomohon Selatan. Danau ini dialiri beberapa mata air dan salah satu mata air yang terkenal yaitu “Koropit” yang artinya adalah” belalang”, yang memang banyak terdapat disekitar mata air tersebut.
Saat ini danau Lumaney dijadikan sebagai tempat wisata nan unik dan sumber ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aneka tanaman yang tumbuh di sekeliling danau menghiasi permukaan air seperti bunga teratai yang berjajar indah dan mempesona, rumpun alang-alang yang tumbuh mekar dan berbunga disana-sini menambah indahnya pemandangan. Bunga-bunga anggrek yang melekat di dahan pohon yang tumbuh disekitar danau, sekaligus hamparan sawah yang indah membentang, dihiasi dengan kawasan hutan diperbukitan yang masih alami. Bagi mereka yang gemar memancing, danau ini menawarkan beragam jenis ikan yang bisa didapat seperti ikan mas, nila, gabus, payangka, sepat dan jenis lainnya. Keindahan lainnya tempat ini menawarkan beragam aktivitas yang menawan seperti trekking sambil menikmati suara alam yang merupakan dambaan kita semua. Danau ini juga menjadi habitat burung-burung seperti raja udang, bangau putih, belibis dan manguni.
Sambil membudayakan masyarakat sadar wisata, selamat mengunjungi danau ini.(Juf/fw)

Kamis, 19 Februari 2009

BUKIT TINTINGON


Berdiri kokoh di batas wilayah Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Induk, di wilayah pemerintahan Kelurahan Kumelembuai Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon, dengan ketinggian ± 1250 meter dari permukaan laut, bukit Tintingon -konon diyakini masyarakat sekitar- sering terdengar ada suara seperti gema lonceng yang dipercaya berasal dari bukit tersebut. Hal ini terjadi sebelum tahun 1950. Oleh karena bunyi suara tersebut sering didengar oleh masyarakat disekitar bukit ini, maka mereka menamakan bukit Tintingon artinya terdengar bunyi ting – ting (dentingan) menyerupai dentingan lonceng.
Desa Kumelembuai berdiri sekitar tahun 1850-an dan penghuninya adalah orang-orang yang asli suku Minahasa – tombuluan. Keberadaan bukit ini menambah potensi desa yang pada umumnya penduduk tergantung dari hasil pertanian. Bahkan hal ini terus dikembangkan hingga sekarang.
Pada tahun 1958 hingga 1961, pecah pemberontakan Permesta, sehingga pada waktu itu bukit Tintingon dijadikan benteng pertahanan permesta karena dianggap sangat strategis dalam teknik pertempuran pada saat itu. Disekitar tahun tersebut tercipta pertempuran antara pasukan permesta dengan tentara pusat (sebutan TNI pada saat itu) yang mengakibatkan suasana kehidupan harmonis masyarakat desa Kumlembuai tercerai berai.
Tetapi, peristiwa ini tidak berlangsung lama karena pada akhirnya di tahun 1961 diadakan gencatan senjata antara pihak permesta dengan pihak tentara pusat, dan uniknya kesepakatan menyelesaikan masalah dilakukan di puncak bukit Tintingon. Sehingga pada waktu itu menambah keyakinan para penduduk bahwa bukit ini benar – benar sebagai bukit Damai. Ini dipahami demikian karena oleh umat penganut Kristiani bunyi atau dentingan lonceng adalah tanda panggilan beribadah.

Pemandangan di Bukit Tintingon
Kondisi disekitar bukit Tintingon saat ini, terhampar puluhan hektar areal pertanian holtikultura yang dikembangkan oleh penduduk kelurahan Kumelembuai, yang dikenal juga sebagai penghasil gula Aren dan kue tradisional Curut. Dari atas puncak bukit ke arah Utara terlihat dengan jelas daratan Manado, pulau Manado Tua, pulau Bunaken, pulau Siladen dan Teluk Manado, sedangkan ke arah Timur terlihat jelas wilayah Minahasa Utara, Bandara Sam Ratulangi, daratan Bitung, Wilayah Minahasa Induk, dan Danau Tondano. Dan jika ke arah Selatan terlihat jelas perkampungan Rurukan dan kumelembuai. Sedangkan ke arah Barat terlihat hamparan pegunungan Mahawu.
Nah, untuk menambah wawasan dan pengalaman menjelajah, tidak salahnya jika kita mencoba menjelajahi Bukit Tintingon. Selamat mencoba dan menikmatinya. ( FW - FCN)